Halo lagi sobat bola! Ngomongin sepak bola emang nggak ada habisnya ya? Kalau kemarin kita udah bahas bakal siapa yang raja di Piala Dunia 2026 (dan saya sempat nyeletuk Prancis), kali ini kita harus bahas satu tim yang bikin hati sebagian besar kita meleleh di tahun 2022 lalu: Timnas Argentina.
Pertanyaan yang sekarang menggantung di udara itu cuma satu: “Seberapa besar sih peluang Argentina buat pertahankan mahkota di Piala Dunia 2026?”
Banyak yang ngomong, “Ah, Argentina di Qatar kemarin itu cuma lucky draw, faktor hoki Messi doang!” Eits, santai dulu, bro. Sebagai pecinta bola yang suka nonton sambil makan kerupuk, kita wajib bahas secara jujur dan logis kenapa Albiceleste bukan cuma sekadar “jago kandang” atau cuma ngandalkan momen keberuntungan semata.
Yuk, kita bedah peluang Messi dkk di turnamen yang bakal rame banget ini (karena ditambah jadi 48 tim). Siapkan camilan kalian, ya!
Gajah di Kamar Mandi: Masalah Umur Messi
Kita nggak bisa munafik, bicara Argentina di 2026 itu sama aja bicara soal Lionel Messi. Di tahun 2026 nanti, umur Messi udah kepala 3, tepatnya 39 tahun. Secara fisik, realistis dong, dia udah nggak bisa bolak-balik sprint 90 menit kayak umur 22 tahun.
Tapi, coba lo bayangin peran Messi di 2026 bukan sebagai playmaker yang nge-dribble dari tengah ke depan terus, tapi lebih ke “Smart Player” atau semacam jenderal lapangan yang ngatur tempo dari lini kedua. Atau bahkan jadi super-sub yang turun 30 menit buat bikin kepanikan di kotak penalti lawan.
Dan yang paling penting: Argentina udah nggak bergantung 100% pada Messi lagi. Ini bedanya dengan era 2010 atau 2014 dulu. Kalau Messi dilepas, Argentina sekarang tetap jalan. Ini kunci utama peluang mereka di 2026.
Sejarah: “Kutukan” yang Sudah Pecah
Kalau mau ngomongin history, Argentina itu tim yang paling tragis sebelum 2022. Final 2014 kalah dari Jerman, Copa America 2015 dan 2016 kalah dari Chile lewat adu penalti (dua kali!). Mental mereka tuh kayak kaca yang retak-retak.

Tapi, semenjak menang di Copa America 2021 (mengalahkan Brasil di rumah sendiri, crisht), dan puncaknya Piala Dunia 2022, beban psikologis itu udah hilang total.
Mereka udah nggak ngotot main cantik. Udah nggak takut sama momen besar. Mereka main dengan identity yang jelas: “Kami mau menang, apapun caranya, dan kami siap mati buat satu sama lain.” Mentalitas ini adalah warisan paling berharga yang dibawa ke 2026. Lawan-lawan sekarang yang malah bakal takut sama Argentina, bukan sebaliknya.
Bedah Skuad: Dari Pabrik Menara Manchester Hingga Mafia Lini Tengah
Nah, ini dia bagian yang paling seru. Mari kita lihat siapa aja yang bakal jadi tulang punggung Argentina di Amerika Utara nanti.
1. Lini Serang yang Beringas (The Man City & MU Connection) Julian Alvarez di 2026 nanti umurnya baru 26 tahun. Dia udah jadi mesin gol yang super workrate. Gaya mainnya yang nggak kenal lelah ini cocok banget buat sistem high-pressing Scaloni. Lalu ada Lautaro Martinez yang di level internasional selalu gacor. Ditambah lagi sosok Alejandro Garnacho. Anak muda Manchester United ini di 2026 bakal berusia 21 tahun. Kecepatannya, dribblingnya, dan courage-nya buat menyerang 1 lawan 1 bakal jadi senjata maut dari sayap. Jangan lupa juga Nicolas Gonzalez yang kerja keras banget.
2. Lini Tengah Segitiga Bermuda Ini area yang menurut saya paling berbahaya dari Argentina. Ada Enzo Fernandez yang bakal jadi otak permainan, ngatur irama, dan operan-operan jarak jauhnya makin matang. Di sebelahnya ada Mac Allister yang punya footballing intelligence di atas rata-rata. Lalu ada Rodrigo De Paul. Kalian yang nonton Piala Dunia 2022 pasti tahu, De Paul ini kayak anjing pitbull yang nggak pernah capek. Dia jadi bodyguard Messi, tapi secara teknis juga punya kemampuan bagus. Trio ini bikin lini tengah lawan kayak masuk ke blender.
3. Pertahanan dan Kiper: Tembok Psikologis Lini belakang Argentina sekarang dipimpin oleh Cristian Romero. Meski kadang agresifnya kebablasan (banyak kartu kuning), tapi dia bek yang sangat keras dan nggak ragu. Ada juga Lisandro Martinez yang nggak kalah galak. Di sisi bek kanan ada Nahuel Molina yang sangat bagus dalam mendukung serangan.
Dan yang nggak boleh dilupakan: Emiliano “Dibu” Martinez. Kiper ini mungkin tekniknya bukan yang paling bagus di dunia, tapi secara psikologis, dia monster. Eksekusi penalti lawan selalu gagal karena mind games yang dia mainkan. Di Piala Dunia (yang sering berujung adu penalti), punya Dibu itu kayak punya jackpot di tangan.
Faktor X: Lionel Scaloni, Sang “Tukang Masak” Jenius
Peluang Argentina juara lagi nggak bisa dilepas dari sosok pelatihnya, Lionel Scaloni. Lo lihat nggak bedanya Scaloni sama pelatih keren lain macam Pep Guardiola atau Jurgen Klopp?
Pep itu kaku sama filosofinya. Kalau pemainnya nggak cocok, dia bakal kesulitan. Scaloni beda. Scaloni itu mendengarkan pemainnya. Dia nggak punya ego besar soal taktik. Dia ngomong, “Oke, Messi mau main di sana? Oke, De Paul butuh bantuan di sini? Kita atur.”
Dia membangun sistem yang sangat fleksibel. Bisa main 4-3-3, bisa tiba-tiba jadi 5-3-2 pas lagi bertahan. Dia tahu cara meracik chemistry ruang ganti yang luar biasa. Di turnamen besar selama sebulan penuh, ruang ganti yang harmonis itu jauh lebih penting dari formasi di papan tulis.
Tantangan di Piala Dunia 2026: Bisa Apa Mereka?
Tentu saja jalan menuju back-to-back juara nggak akan dihamparkan karpet merah. Ada beberapa tantangan besar:
- Format 48 Tim: Ini artinya ada tambahan satu babak knock-out (Round of 32). Fisik pemain bakal sangat diuji. Argentina harus punya rotasi yang bagus, terutama di lini tengah dan belakang. Kalau Romero atau De Paul cedera, apakah cadangannya selevel?
- Era Transisi: Ini adalah Piala Dunia pertama Argentina tanpa aura Messi yang mendominasi secara penuh. Bagaimana reaksi pemain muda kayak Garnacho kalau tiba-tiba tertinggal di babak knock-out? Apakah mentalitas champion 2022 udah menular ke generasi baru?
- Rival-Rival Kuat: Prancis dengan Mbappe yang luar biasa, Spanyol dengan generasi emas baru mereka (Yamal dkk), dan Inggris yang laper banget. Lawan-lawan ini juga berevolusi.
Verdict: Apakah Mereka Bisa?
Kalau ditanya peluangnya berapa persen? Saya kasih angka 75% untuk mencapai Semifinal, dan 60% untuk jadi Juara.
Mengapa peluang juaranya tetap sangat tinggi? Karena Argentina punya sesuatu yang nggak dimiliki tim lain saat ini: Rasa lapar yang sudah terpuaskan, tapi berubah jadi kepercayaan diri yang mengerikan.
Mereka udah tau rasanya jadi juara dunia. Mereka udah tau resepnya. Ngumpul, jaga satu sama lain, bertahan rapat, lalu tunggu momen buat membunuh lewat serangan balik atau kejeniusan individu. Ini bukan tim yang kalah karena taktik, ini tim yang sangat sulit dikalahkan karena mereka bermain dengan hati.
Prancis mungkin punya skuad individu yang lebih “mahal” di atas kertas, tapi sepak bola bukan main Fantasy Football. Sepak bola adalah tentang siapa yang paling nggak mau kalah. Dan di momen itu, Argentina saat ini adalah rajanya.
Maka, jangan kaget kalau di final 19 Juli 2026 nanti di MetLife Stadium, kita melihat Messi (entah sebagai starter atau pemain pengganti yang datang di menit ke-70) kembali mengangkat trofi emas itu, atau setidaknya melihat pemain-pemain lain meneruskan legacy-nya dengan bangga.
Albiceleste bukan cuma sekadar momen, mereka sedang membangun sebuah dinasti.
Nah, bagaimana menurut kalian? Apa kalian setuju kalau Argentina bakal sangat susah dikalahkan di 2026? Atau kalian pikir ada tim yang bisa crack mentalitas baja mereka? Tulis di kolom komentar, ya! Sekarang, saya mau nonton ulang gol Di Maria di final 2022 dulu biar healing. Sampai jumpa!

